Against Stereotype
Itulah jargon untuk Crossover Dynamic ala Toyota ini yang dinamai CH-R.
Untuk melengkapi armada Hybrid dari Toyota untuk menemani Prius & Camry, mereka menambahkan CH-R Hybrid, sekaligus menambah option untuk peminat CH-R.

1st impression?
Much proper than the regular one.
Depannya?

Aura Hybrid langsung merebak berkat logo Toyota dengan background biru yang terasa wah.
Lampu depannya udah memakai Fierce Bi-Beam LED Headlamp with Auto Leveling. Fog lamp juga udah tersedia.
Design depannya sebenarnya cakep dan harus saya akui, jauh lebih proper dibandingkan yang CH-R regular.
Sampingnya?
Much better than the regular one.
Harus diakui, kalau pakai pelek two-tone, CH-R Hybrid terasa sangat classy and funky. Peleknya sendiri berukuran 17″. Rem sudah menggunakan rem cakram di rodanya.
Design kacanya menurut saya terlihat dinamis, begitu juga dengan lekukan yang terasa cukup pas for me. Satu bagian yang membuatnya sama dengan Honda HR-V adalah gagang pintu belakang yang mirip seperti coupe, karena berasa di samping kaca.
Fendernya dibawah terasa serasi dan gak norak.
Kalau pakai two-tone, CH-R terasa lebih proper for me. Kalau single tone, terasa B aja.
Belakangnya?

For me, ini bisa memecah selera, karena bakalan ada yang suka sama design-nya, ada yang kagak.
Terutama kacanya yang kelihatan lumayan kecil, terus ditambah spoiler diatas.
Antena radio udah shark fin. Dan wiper dikaca juga udah tersedia.
Design lampu belakang termasuk kece. Selain karena design yang modern, dia juga udah menggunakan LED.
For me, overall belakangnya mengingatkan gua pada Toyota RSC, terutama kalau dari jarak jauh 3rd person camera view. (Terutama auranya)
Dalamnya?

Design dashboard-nya termasuk minimalis dan sederhana. Namun gak gitu ngebosenin.
Steering-nya cukup enak untuk digenggam, dia juga udah tilt & telescopic. Ditemani berbagai tombol Cruise Control karena udah ada fitur Cruise Control dan Audio Control.
Perpaduan hitam & coklat yang cukup serasi, ditambah dengan build quality yang cukup baik, membuatnya terasa cukup proper.
Layar TFT 4.2″ Yang informatif, serta speedometer yang modern dan EV banget, membuat saya cukup betah melihatnya.
Head unit-nya terasa B aja, dan menurut saya, pemantauan system Hybrid-nya aja yang membuatnya special.
Jantungnya?

Apabila CH-R regular menggunakan mesin 2ZR-FBE 1.8L 4 Cylinders yang menghasilkan tenaga 140 HP dengan torsi 171 NM/17.4 kg-m, rasio kompresi 10:1, maka versi Hybrid menggunakan mesin 2ZR-FXE, berkapasitas sama, hanya saja dia ditemani motor listrik yang menghasilkan tenaga 36 PS, namun dari mesin bensinnya sendiri, dia lebih kecil, karena dia hanya menghasilkan tenaga 100 PS, dengan torsi 142 NM/14.5 kg-m. Kedua varian mesin menggunakan transmisi CVT 7-speed, didistribusikan via Front Wheel Drive.
Desain kapnya sendiri termasuk unik karena ketika dibuka, dia berbentuk segitiga yang beraura funky. For me, the packaging should have done better.
Harganya sendiri ditaksir mulai dari Rp 506.650.000 – 533.390.000 OTR Jabodetabek.
Agak mahal untuk varian regular, tapi kalau untuk Hybrid, masih make sense sih.
1st drive?
Si Hybrid termurah dari brand pelopor Hybrid ini memiliki beberapa hal yang membuatnya terasa memorable. Here’s my verdict.
Pertama kalinya menyalakan mobil ini, rasanya halus. Sampai saya sempat merasa bahwa mesin Hybrid nya belum nyala. Padahal instrumen lainnya udah hidup.
Hal pertama yang gua notice ketika membawanya ke jalan adalah kekedapan kabin yang impressive.
Speedometer terasa EV. RPM? There’s no such thing in this car (so does Camry Hybrid).
Yang ada hanyalah Eco & Power tachometer & Km/h.
Power delivery-nya termasuk soft dan transmisi CVT-nya termasuk soft. Engine-nya bukan yang meledak-ledak, namun lebih ke efficient oriented. Ada Power mode dan EV (Electric Vehicle) mode, namun sayang aja saya tidak bisa menggunakan EV mode karena batterynya lagi low 😦
EV mode adalah mode yang memungkinkan CH-R untuk bergerak dengan battery alone.
Steering-nya termasuk balanced. Entengnya pas, dan semakin rigid ketika dibawa kecepatan tinggi. Dan enak untuk digenggam.
Posisi mengemudinya sendiri termasuk ergonomis. Visibilitas depan cukup baik, samping, lumayan, namun di belakang, terasa rada poor.
Highlights dari CH-R ini adalah chassis dan suspension yang diusungnya. Chassis baru ini bernama TNGA (Toyota New Global Architecture). Melalui ini, Toyota menjanjikan kelincahan yang lebih baik, center of gravity yang lebih rendah, visibilitas yang lebih baik, dan kestabilan yang lebih mumpuni. And the gamble works in a good manner 👍.
Kinerja chassis TNGA ini termasuk mumpuni. Dia rigid dan terasa solid, dan gak membuat anda tidak merasa melayang didalam mobil. Suspension termasuk balanced. Tidak terlalu hard, namun tidak terlalu soft as well. Mirip-mirip mobil European. Handling-nya termasuk cukup baik dan city friendly. Braking-nya termasuk cukup baik.
Waktu mundur, ada rear camera yang dengan garis bantu yang pasif (pasif karena tidak mengikuti gerakan steering).
Overall, driving quality-nya benar-benar berbeda dari kebanyakan Toyota pada umumnya. Rasanya pengen naik lagi. I wish Toyota can make any car with their latest TNGA chassis. I like the TNGA. I really do.
My Ratings:
Performance: 7.7/10
Handling: 8.1/10
Comfort: 8.3/10
Features: 8.2/10
Chassis: 8.4/10
My verdict:
TNGA is not a joke. Their latest chassis really works handsomely. Can’t wait to taste another.
CH-R Hybrid is a more logical pick than its regular overpriced version.
Feel free to drop comments.
Thank you & drive for your life.
